Peluang Bisnis Genset Mudah dan Menguntungkan

Peluang Bisnis Genset Yang Menguntungkan

Peluang Bisnis Genset Yang Menguntungkan – Peluang usaha genset memang termasuk menguntungkan dan menjanjikan. Genset menghasilkan listrik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan manusia. Khususnya untuk kebutuhan yang mendesak seperti pemadaman listrik. Karena listrik adalah kebutuhan sehari-hari, sehingga jika tidak ada listrik, alternatif paling utama adalah genset. Di Manado sendiri, terdapat supplier genset murah di Manado yang menyediakan kebutuhan genset sesuai jenis dan kapasitasnya.

Peluang Bisnis Genset Keuntungan Besar

Genset dapat dijadikan sebagai salah satu peluang bisnis yang menjanjikan. Karena kebutuhan listrik yang semakin banyak dan tinggi, membuat sering terganggunya arus listrik dari pembangkit yang mengakibatkan pemadaman. Jika terjadi hal tersebut, yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan genset. Karena genset menyediakan pasokan listrik cadangan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Berikut cara membuka usaha genset yang menjanjikan:

  1. mempelajari konsep usaha genset

Sebelum anda terjun di dunia bisnis genset, anda harus mengetahui dan memahami konsep usaha tersebut. Pertama, anda harus mengetahui berbagai informasi yang berkaitan dengan genset.

  • mengetahui spesifikasi genset

Termasuk type genset, keunggulan genset, jenis genset, sampai harga genset. Sehingga anda akan menemukan konsep bisnis yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat khususnya terhadap kebutuhan genset.

  • membuat skema usaha

Setalah itu, anda mulai memikirkan dan membuat skema usaha yang akan anda lakukan. Skema usaha ini tentu berisi tentang genset dan lainya. Skema usaha genset dapat dalam bentuk sewa harian atau sewa jangka panjang. Keduanya tentu mempunyai keuntungan dan konsekuensi yang berbeda-beda. Skema usaha juga termasuk hal penting seperti modal.

  • melakukan perancangan usaha

Setelah membuat skema, anda pasti mempunyai gambaran akan usaha genset anda. Sehingga yang pertama anda siapkan adalah rancangan usaha anda.

  • Modal

Modal menjadi tumpuan dasar bisnis. Modal yang harus dikeluarkan untuk membeli genset dengan variasi dan kapasitas yang sesuai dengan rancangan atau permintaan konsumen.

  • Genset

Genset menjadi objek utama bisnis. Dimana genset yang dibeli harus berkualitas baik dan prima. Dengan kapasitas dan variasi jenis sesuai dengan kebutuhan konsumen yang menyewa.

  • teknisi
    Teknisi juga menjadi faktor penting dalam memulai bisnis sewa genset. Teknisi yang pilih harus handal, dan mempunyai skill tentang mesin genset.

Dengan persewaan genset tersebut, keuntungan yang diperoleh sangat menjanjikan. Peluang usaha persewaan genset ini dapat dilakukan dengan jangka pendek atau jangka panjang, tergantung kegiatan yang dilakukan.

Percepat Swasembada Bawang Putih

Percepat Swasembada Bawang Putih Di samping menstabilkan pasokan cabai dan bawang merah, pemerintah juga berambisi mewujudkan swasembada bawang putih pada 2019. Indonesia mengimpor 95% bawang putih untuk kebutuhan nasio – nal. Dari total 95% impor tersebut, 98%-nya berasal dari China. Tiap tahun, Indonesia membutuhkan pasokan bawang putih sebanyak 480 ribu-500 ribu ton. Dan China, memasok kebutuhan bawang putih untuk Indonesia sekitar 450 ribu ton pertahun. Saat ini, produksi bawang putih lokal baru mencapai 20 ribu ton dari total lahan seluas 2.200 ha. Sisanya, harus impor. “Kalau produksi di China bermasalah gimana? Ketersediaan bawang putih kita juga pasti terganggu,” papar Prihasto Setyanto saat diwawancara AGRINA di kantornya (3/1). Padahal Indonesia pernah meraih masa keemasan dengan swasembada bawang putih pada 1995.

Namun karena ada banjir impor, harga jatuh, lama-kelamaan petani bawang putih kehilangan semangat untuk bertanam. Karena itu Kementan ingin membang – kitkan kembali pertanian bawang putih. Mentan Andi Amran Sulaiman mencanangkan target swasembada bawang putih berkelanjutan cukup ambisius yang diharapkan tercapai pada 2019. Bukan hal mudah untuk mencapai target tersebut. Tapi, juga bukan berarti tidak mungkin. “Dibilang terlalu optimis sih tidak juga karena kita mampu,” tandas Prihasto. Pihaknya sudah mulai seleksi benihbenih bawang putih yang unggul dan cocok untuk ditanam di Indonesia. Kandidat kuat yang cocok untuk benih adalah jenis GBL dari Taiwan. Setelah diuji DNA, lanjut dia, hasilnya cocok seperti jenis Sangga Sembalun milik Indonesia. Sejauh ini, sudah ada penanaman bawang putih di lahan seluas 1.720 ha. Prihasto memprediksi akan ada panen pada Maret 2018. “Nanti itu kita dorminasi (simpan) untuk tanam Oktober hingga Desember,” sambung jebolan Universitas Brawijaya itu. Untuk 2018, sambungnya, Kementan menargetkan penanaman bawang putih seluas 20 ribu ha di seluruh wilayah Indonesia.

Pemerintah Sudah Swasembada Cabai Bagian 2



Total prognosa luas panen cabai rawit selama Januari 2018 sebesar 57.058 ha. Sedangkan untuk cabai besar, lima daerah teratas dengan total luas panen terluas adalah Temanggung (1.195 ha), Rejanglebong (1.096 ha), Kulonprogo (982 ha), Magelang (964 ha), dan Kerinci (844 ha) Total angka prognosa luas panen cabai besar untuk Januari 2018 sebesar 35.324 ha. Dengan pola tanam yang terencana seperti itu diharapkan pola suplai cabai ke pasaran stabil sehingga harga pun tidak terlalu berfluktuasi.

Inflasi?

Komoditas cabai acap kali disebut-sebut sebagai penyebab inflasi. Menurut Bank Indonesia (BI), pengertian inflasi adalah kenaikan harga yang meng akibatkan kenaikan harga pada barang lainnya. Saking seringnya cabai ditunjuk sebagai biang inflasi, BI pun turun tangan untuk mengendalikan inflasi dengan program pengembangan klaster di bawah Departemen Pengembangan UMKM BI. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), cabai merah menyumbang inflasi sebesar 0,05% terhadap laju inflasi Oktober 2017 dan 0,06% pada laju inflasi November 2017. Sedangkan pada November 2016, BPS mencatat adanya kenaikan harga cabai merah sebesar 0,92% yang memiliki andil inflasi sebesar 0,16% terhadap kenaikan bahan pangan. Dan pada Oktober 2016, cabai merah menyumbang inflasi 0,7%. Soekam mengaku, sudah sejak 2015 diajak BI terjun langsung ke daerah-daerah untuk menjalankan program pengendalian inflasi pada bahan pangan seperti cabai dan bawang. Menurutnya, riuh kampanye pilkada sangat mempengaruhi inflasi pada 2015 dan 2016. “Tahun ini sudah cukup berhasil. Inflasi bukan lagi karena tanaman pangan, tapi lebih ke transportasi dan listrik,” pungkasnya



Pemerintah Sudah Swasembada Cabai

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan, saat ini Indonesia sudah swasembada cabai. “Alhamdulillah saya sudah bisa menyampaikan ke publik kita swasembada beras, bawang, jagung, dan cabai.

Swasembada

Dari tayangan presentasi Mentan, sejak 2014 – 2017 produksi cabai cenderung mengalami pe – ningkatan. Angkanya berturut-turut: 1,87 juta ton, 1,91 juta ton, 1,96 juta ton, dan 1,90 juta ton (ARAM I/2017). Pada 2014, memang masih ada impor cabai segar sebanyak 30 ton dan pada 2015 sebesar 43 ton. Namun sepanjang 2016-2017, sudah tidak ada lagi impor cabai segar. Pencapaian tersebut berkat sejumlah strategi, salah satunya manajemen pola tanam. Pola penanaman menyesuaikan kebutuhan industri, rumah tangga, hotelrestoran-katering (horeka), dan konsumen lainnya. “Indikator keterse – dia an produksi bisa dilihat dari harga.

Terbukti saat hari besar keagamaan nasional tidak ada gejolak harga yang signifikan. Harganya stabil dan aman,” terang Prihasto Setyanto, Direktur Budidaya Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura Kementan, kepada AGRINA di kantornya (3/1). Soekam Parwadi, Direktur Pengembangan Agribisnis, Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) mengamini, harga cabai besar memang cenderung stabil. Tapi untuk cabai rawit, sempat ada gejolak harga tinggi pada awal tahun hingga April 2017. “Kemudian di pertengahan tahun ada gerakan menanam cabai rawit yang masif. Jadilah banyak panen pada Agustus–November,” jelasnya. Dam – paknya, sambung Soekam, Agustus-November harga cabai rawit di tingkat petani jatuh sampai Rp6 ribu-Rp7 ribu/kg.

Ketersediaan Aneka Cabai

Periode Januari – Maret 2018, pemerintah memperkirakan persediaan aneka cabai mencukupi. Untuk cabai besar, angka prognosa ketersediaannya lebih besar dari angka kebutuhan. Perkiraan ketersediaan selama tiga bulan itu berturut-turut sebesar 102.153 ton, 101.840 ton, dan 101.855 ton. Sedang – kan perkiraan kebutuhan Januari – Maret sebesar 93.311 ton, 93.311 ton, dan 93.645 ton. Sedangkan cabai rawit, persediaan Januari – Maret diperkirakan berturut-turut sebesar 77.847 ton, 78.090 ton, dan 78.564 ton. Angka prognosa ini juga masih lebih besar dibanding prognosa kebutuhan. Angka kebutuhan Januari – Maret diperkirakan sebesar 69.843 ton, 69.861 ton, dan 69.945 ton. Tahun ini, pemerintah juga menargetkan penambahan luas panen.

“Setiap tahun kita ada penambah – an luas panen sekitar 3% di seluruh Indonesia,” ungkap Prihasto. Selama Januari 2018 ini, pemerintah memperkirakan lima daerah dengan luas panen terbesar di Mojokerto (1.342 ha), Jember (1.186 ha), Lombok Timur (1.003 ha), Banjarnegara (1.000 ha), dan Blitar (868 ha).

Masih Ada Alsintan untuk Petani

Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman berhasil mengerek bisnis alat dan mesin pertanian (alsintan) di Tanah Air. Bagaimana peluangnya tahun ini? K ementerian Pertanian terus berusaha menu- runkan ongkos produksi tanaman pangan supaya petani mendapatkan untung lebih. “Sampai hari ini kita menyiapkan 300 ribu unit alsintan,” jelas Mentan Amran pada Rakor Gabungan Ketahanan Pangan dan Evaluasi Upsus 2017 di kantor pusat Kementan, Jakarta (3/1). Dengan memanfaatkan alsintan, indeks pertanaman naik. Artinya, produksi naik dan luasan tanam pun naik. Pada 2017, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan, menyediakan 79.150 unit alsintan. Realisasinya, aspek kegiatan pengelolaan sistem penyediaan dan pengawasan alsintan menyedot anggaran Ditjen PSP sekitar 44,01% per 29 Mei 2017. Nilainya setara Rp1,623 triliun dari pagu yang disediakan sekitar Rp3,686 triliun.

Kegiatan 2018

Pending Dadih Permana, Direktur Jenderal Pra – sara na dan Sarana Pertanian mengatakan, alsintan bukan sekadar alat. Tetapi juga sebagai barang mo – dal yang harus dikembangkan sebagai modal usaha. Bantuan ini ditujukan kepada kelompok tani (Pok – tan) atau gabungan kelompok tani (Gapoktan). Pada 2018, masih ada bantuan alsintan untuk pe – tani. Rencana alokasi 2018, pagu indikatif untuk al – sintan sebanyak 84.300 unit dengan total anggaran sebesar Rp2,22 triliun. Rinciannya, akan ada peng – adaan traktor roda dua (19 ribu unit), traktor roda empat TP (1.500 unit), dan pompa air (25 ribu unit). Belum berakhir sampai di situ, Ditjen PSP juga akan melakukan pengadaan mesin penanam padi (3.000 unit), kultivator (1.700 unit), ekskavator (100 unit), penyemprot tangan (25 ribu unit), dan penanam padi (9.000 unit). Clifford Budiman, Strategic Management & Busi ness Development Director PT Rutan, produsen al sin tan di Surabaya, mengapresiasi gerakan peme rintah yang memfasilitasi alsintan untuk para petani. “Sejak kemerdekaan, program ini luar biasa karena benarbenar berani dan mendukung petani,” ung kap nya saat diwawancarai AGRINA di kantornya (9/1). Namun sebaiknya, lanjut Cliff, bantuan tidak terfokus hanya pada mesin prapanen, tetapi juga pascapanen. Ia mencontohkan kasus di Sulawesi Teng – gara, petani sangat membutuhkan mesin pengering. Jika produksi sudah berjalan tapi tidak sampai di – proses, malah akan merugikan petani. Sebagai pebisnis di bidang agribisnis, Cliff meng – aku siap mendukung segala upaya pemerintah menjalankan program-programnya. “Untuk lembaga ke – bij akan pengadaan barang/jasa (LKPP) sebaiknya mempersiapkan timeline (jadwal) supaya pihak swas ta bisa mempersiapkan dengan baik alsintan yang dibutuhkan,” ujarnya

Virus Kerdil Mengancam Swasembada Bagian 3

Curhat Petani

Di Desa Parigimulya, Cipunagara, Subang, kasus gagal panen akibat serangan klowor mencapai 75%. Panen dikatakan gagal karena dari satu hektar lahan hanya menghasilkan 5 karung atau setara 2,3 kuintal. Mastam, Ketua Gapoktan Sri Tani di Subang mengungkapkan, 2017 merupakan tahun terparah dan terpuruk. “Sekarang rata-rata hanya dapat 5 kuintal/ha. Kalau dapat 3,5 ton/ha sudah sangat bagus,” ungkapnya saat ditemui AGRINA di BB Padi Sukamandi, Subang (30/11). Serangan wereng, lanjut petani yang memiliki sa – wah seluas 2 ha itu, datang bertubi-tubi sejak 2016. Petani panik dan bingung karena berbagai macam produk pestisida sudah digunakan tapi serangan ma – sih banyak. Karena sudah keluar banyak uang, akhir – nya petani menggunakan solar dan oli. “Me mang tidak dianjurkan dan mencemari lingkungan. Tapi apa boleh buat? Itu jalan pintasnya,” ujar Mastam.

Petani yang sudah bertani sejak 1990 tersebut menjelaskan, pada 2016 varietas ciherang bisa panen 7- 7,5 ton/ha dan ketan dapat 8,4 ton/ha. Sedangkan 2017, tiga dari 16 kelompok tani yang ada di desa tersebut, mengalami gagal total atau puso. Masih menurut Mastam, serangan wereng membludak karena pola bercocok tanam yang tidak serempak. “Saya sudah himbau jangan tanam tiga kali, tapi ada satu anggota yang maksa tetap tanam. Kalau tidak garap, ia tidak punya penghasilan. Jadi saya persilakan saja, saya hanya menghimbau,” katanya. Tapi kebetulan, petani yang tanam sendiri ini sangat beruntung karena hasil panennya bagus. “Saya juga ka – get, cuaca dan ha ma sangat ti – dak bisa dipre – diksi,” imbuhnya. Mastam meng – aku keuntungan dari hasil panen padi tahun ini sa ngat pas-pas – an. Ia dan keluarganya masih bi – sa bertahan ka – rena menyimpan hasil panen yang disisihkan untuk kebutuhan sehari-hari. Ke – naikan biaya listrik, gas, diakui sangat memberatkan dengan keadaannya saat ini. “Dengan penghasilan yang tidak menentu, saya sebagai petani merasa terbebani,” curhatnya. Meskipun kondisi bertanam padi sedang sulit, Mas – tam tetap menghimbau para petani untuk bertahan. “Tapi tergantung pendirian masing-masing. Ada yang terus menggeluti pertanian, ada yang beralih jadi pedagang,” ungkapnya. Malahan, alih lahan se – bagai kawasan industri yang dulu sempat ditentang, kini malah masyarakat yang mencari operator atau calo untuk jual tanahnya. Alasannya, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. “Kalau yang gajian masih bisa mengandalkan penghasilan bulanan. Tapi kalau petani gagal panen ya jual tanah,” ujarnya prihatin

Virus Kerdil Mengancam Swasembada Bagian 2

Dilema



Di balik riuhnya klaim swasembada beras, para petani berjuang keras untuk bertani padi. Data la – pangan, ada sekitar 780 ribu ha padi terserang virus kerdil yang dibawa wereng cokelat sepanjang 2017. Mewabahnya serangan virus yang petani biasa menyebutnya klowor atau mejen disinyalir karena pola penanaman padi dengan IP300. “Sebenarnya dilematis juga, di satu sisi pemerintah ingin memper – cepat tanam sampai IP300. Sementara itu, eko sis – tem nya belum siap,” terang Dudy Kristyanto, Mar – keting Manager PT Bina Guna Kimia saat berbincang dengan AGRINA di kantornya, Jakarta (3/1). Menurut Dudy, ada satu permasalah – an, yaitu kurangnya pengetahuan pe – tani. “Kalau tanaman padi “terbakar” pasti sudah ketahuan tidak akan panen. Sedangkan padi yang mejen tetap war – na nya masih hijau, petani masih ber – harap mendapatkan hasil. Jadi terus dipupuk,” terangnya.

Padahal, sambung Dudy, kalau sudah mejen (kerdil rumput atau kerdil hampa) pasti tidak akan tumbuh dan tidak keluar malainya. Jadinya malah buang-buang uang jika tetap dipupuk. Menurut alumnus IPB tersebut, sejauh ini ekosistem sedang tidak seimbang. Tanaman padi yang kurang hijau, langsung ditambah pupuk kimia. Aplikasi pupuk organik kurang, Tidak ada rotasi tanaman. “Kalau tidak ada rotasi tanaman artinya tidak memutus siklus hama penyakit,” jelasnya. Selain rotasi tanaman, rotasi bahan aktif insektisida juga penting untuk manajemen resistensi. Dudy memprediksi, pada 2018 serangan wereng cokelat dan klowor akan meningkat. Biasanya, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara tidak ada serangan klowor, tapi ia sendiri menyaksikan ada serangan di sana. “Mungkin salah satu penyebarannya karena badai yang belakangan ini sering terjadi menerbangkan wereng cokelat sampai ratusan kilometer jauhnya,” ungkapnya. Di lain kesempatan, Budi Widodo, Technical & Marketing Manager PT Agricon Indonesia meng – ungkapkan hal serupa. “Karena pola tanam intensif, tanah tidak bisa istirahat,” ujarnya. Imbasnya, tanah enderung masam karena dipupuk terus-menerus. Bisa jadi, tanah kekurangan unsur mikro sehingga unsur hara tidak bisa terserap ke dalam tanah. Selain itu, sambung Budi, kondisi iklim dengan musim kemarau sedikit membuat tanaman terus ada di lahan, menyebabkan siklus hama tidak terputus. Akibatnya, intensitas serangan semakin tinggi. “Serangan hama memang sangat didukung oleh kondisi lingkungan,” imbuhnya. Ia memprediksi, kondisi 2018 agak ekstrem karena pengaruh musim sehingga petani harus bersiap-siap.

lanjut ke bagian 3 : https://ilga-portugal.org/berita/virus-kerdil-mengancam-swasembada-bagian-3/



Virus Kerdil Mengancam Swasembada

“Indonesia telah mencapai swasembada beras selama tiga tahun berturut-turut,” ucap Amran pada Rakor Gabungan Ketahanan Pangan dan Evaluasi Upsus 2017 di Kementan, Jakarta (3/1). Menurutnya, hal ini merupakan sejarah baru karena Indonesia pernah swasembada pada 1984 dan menerima penghargaan dari FAO. Amran mengungkapkan, kini setiap hari selalu ada panen di Indonesia. “Tiada hari tanpa tanam, tiada hari tanpa panen,” paparnya ke publik. Ini para digma baru.

Selama 70 tahun selalu ada paceklik tiap November, Desember, dan Januari. Biasanya, pada bulan-bulan tersebut harga selalu bergejolak. “Kita lihat harga 2017 masih bagus,” cetus Mentan. Menurutnya, dengan segala daya dan upaya, paceklik bisa dihapuskan. Pemerintah telah mendukung pembangunan embung, irigasi, dam, dan pompanisasi dari sungai. Mekanisasi juga berkontribusi untuk mempercepat tanam dan panen. Yang terpenting, ujar Amran, selama dua tahun dan akan masuk tahun ketiga, tidak ada beras luar negeri yang masuk wilayah Indonesia. “Memang pahit karena banyak yang tidak setuju. Itu karena mereka tidak mengerti paradigma baru pertanian,” paparnya.

lanjut ke bagian 2 : https://ilga-portugal.org/berita/virus-kerdil-mengancam-swasembada-2/

Tulisan di Wordpress