Butuh pondasi yang kuat untuk dapat membangun industri digital di masa mendatang. digelarnya kembali indosat wireless competition merupakan komitmen indosat untuk membangun pondasi tersebut. Indosat kembali menggelar Indosat Wireless Competition (IWIC). IWIC kali ini memasuki tahun ke delapan. “IWIC ada lah kompetisi pertama yang paling konsisten untuk kompeti si inovasi perangkat mobile. IWIC dimulai saat yang lain be lum memperlombakan aplikasi perangkat mobile.

Local dan regional sudah aware dengan kompetisi ini,” papar Division Head Public Relations Indosat, Adrian Prasanto. Sejak pertama kali IWIC diselenggarakan, Indosat percaya bahwa pondasi untuk bertumbuhnya industri dan ekosistem digital di Indonesia harus dibangun bersama. Indosat juga sadar bahwa ekosistem telekomunikasi tidak bisa jalan sendiri. “Industri telko tidak bisa hanya mengandalkan jaringan. Tapi juga harus ada perangkat yang kompatibel dan aplikasi yang berjalan di smartphone dengan data connection,” tambah Pras. Untuk itu, ide dan aplikasi inovatif yang muncul dalam kompetisi ini diharapkan bisa menunjang Indosat sendiri sebagai salah satu pelaku industri telekomunikasi.

Perlu entrepreneur

Mulai 2008, geliat teknopreneur mulai terasa di tanah air. Para entrepreneur muda di bidang teknologi informasi khususnya, bermunculan. Indosat melihat geliat ini sebagai satu kesempatan untuk turut membangun pondasi industri dan ekosistem digital di Indonesia. Oleh karena itu, Indosat memanfaatkan IWIC sebagai salah satu jenjang yang dapat dilalui pesertanya untuk membangun industri digital di tanah air. Caranya, tahun lalu Indosat telah menggandeng Founder Institute sebagai mentor berbisnis bagi para pemenang IWIC. “Kita tidak ingin selesai pengumuman IWIC kita cuma bagi­bagi hadiah, bersenang­senang, dan sudah.

Tapi kita ingin para pe menang IWIC ini mendapat mentoring agar idenya bisa berkembang dan mereka menjadi teknopreneur. Mereka bisa memiliki bisnis dari ide mereka itu,” tutur pria yang akrab disapa Pras itu. Selain itu, Pras menyayangkan masih minimnya jumlah wirausahawan di tanah air ketimbang negara tetangga. “Di Jepang jumlah teknopreneurnya mencapai 10%, Korea Selatan 4%, Singapura 7%, Malaysia 5%, dan Cina 4%. Sementara di Indonesia jumlah entrepreneurnya masih 1,5%,” ujarnya. Padahal untuk menjadi negara maju, diperlukan sedikitnya 2% wirausahawan dari total penduduk. Oleh karena itu, Indosat menawarkan pilihan untuk menjadi teknopreneur lewat IWIC.