Curhat Petani

Di Desa Parigimulya, Cipunagara, Subang, kasus gagal panen akibat serangan klowor mencapai 75%. Panen dikatakan gagal karena dari satu hektar lahan hanya menghasilkan 5 karung atau setara 2,3 kuintal. Mastam, Ketua Gapoktan Sri Tani di Subang mengungkapkan, 2017 merupakan tahun terparah dan terpuruk. “Sekarang rata-rata hanya dapat 5 kuintal/ha. Kalau dapat 3,5 ton/ha sudah sangat bagus,” ungkapnya saat ditemui AGRINA di BB Padi Sukamandi, Subang (30/11). Serangan wereng, lanjut petani yang memiliki sa – wah seluas 2 ha itu, datang bertubi-tubi sejak 2016. Petani panik dan bingung karena berbagai macam produk pestisida sudah digunakan tapi serangan ma – sih banyak. Karena sudah keluar banyak uang, akhir – nya petani menggunakan solar dan oli. “Me mang tidak dianjurkan dan mencemari lingkungan. Tapi apa boleh buat? Itu jalan pintasnya,” ujar Mastam.

Petani yang sudah bertani sejak 1990 tersebut menjelaskan, pada 2016 varietas ciherang bisa panen 7- 7,5 ton/ha dan ketan dapat 8,4 ton/ha. Sedangkan 2017, tiga dari 16 kelompok tani yang ada di desa tersebut, mengalami gagal total atau puso. Masih menurut Mastam, serangan wereng membludak karena pola bercocok tanam yang tidak serempak. “Saya sudah himbau jangan tanam tiga kali, tapi ada satu anggota yang maksa tetap tanam. Kalau tidak garap, ia tidak punya penghasilan. Jadi saya persilakan saja, saya hanya menghimbau,” katanya. Tapi kebetulan, petani yang tanam sendiri ini sangat beruntung karena hasil panennya bagus. “Saya juga ka – get, cuaca dan ha ma sangat ti – dak bisa dipre – diksi,” imbuhnya. Mastam meng – aku keuntungan dari hasil panen padi tahun ini sa ngat pas-pas – an. Ia dan keluarganya masih bi – sa bertahan ka – rena menyimpan hasil panen yang disisihkan untuk kebutuhan sehari-hari. Ke – naikan biaya listrik, gas, diakui sangat memberatkan dengan keadaannya saat ini. “Dengan penghasilan yang tidak menentu, saya sebagai petani merasa terbebani,” curhatnya. Meskipun kondisi bertanam padi sedang sulit, Mas – tam tetap menghimbau para petani untuk bertahan. “Tapi tergantung pendirian masing-masing. Ada yang terus menggeluti pertanian, ada yang beralih jadi pedagang,” ungkapnya. Malahan, alih lahan se – bagai kawasan industri yang dulu sempat ditentang, kini malah masyarakat yang mencari operator atau calo untuk jual tanahnya. Alasannya, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. “Kalau yang gajian masih bisa mengandalkan penghasilan bulanan. Tapi kalau petani gagal panen ya jual tanah,” ujarnya prihatin