Dilema



Di balik riuhnya klaim swasembada beras, para petani berjuang keras untuk bertani padi. Data la – pangan, ada sekitar 780 ribu ha padi terserang virus kerdil yang dibawa wereng cokelat sepanjang 2017. Mewabahnya serangan virus yang petani biasa menyebutnya klowor atau mejen disinyalir karena pola penanaman padi dengan IP300. “Sebenarnya dilematis juga, di satu sisi pemerintah ingin memper – cepat tanam sampai IP300. Sementara itu, eko sis – tem nya belum siap,” terang Dudy Kristyanto, Mar – keting Manager PT Bina Guna Kimia saat berbincang dengan AGRINA di kantornya, Jakarta (3/1). Menurut Dudy, ada satu permasalah – an, yaitu kurangnya pengetahuan pe – tani. “Kalau tanaman padi “terbakar” pasti sudah ketahuan tidak akan panen. Sedangkan padi yang mejen tetap war – na nya masih hijau, petani masih ber – harap mendapatkan hasil. Jadi terus dipupuk,” terangnya.

Padahal, sambung Dudy, kalau sudah mejen (kerdil rumput atau kerdil hampa) pasti tidak akan tumbuh dan tidak keluar malainya. Jadinya malah buang-buang uang jika tetap dipupuk. Menurut alumnus IPB tersebut, sejauh ini ekosistem sedang tidak seimbang. Tanaman padi yang kurang hijau, langsung ditambah pupuk kimia. Aplikasi pupuk organik kurang, Tidak ada rotasi tanaman. “Kalau tidak ada rotasi tanaman artinya tidak memutus siklus hama penyakit,” jelasnya. Selain rotasi tanaman, rotasi bahan aktif insektisida juga penting untuk manajemen resistensi. Dudy memprediksi, pada 2018 serangan wereng cokelat dan klowor akan meningkat. Biasanya, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara tidak ada serangan klowor, tapi ia sendiri menyaksikan ada serangan di sana. “Mungkin salah satu penyebarannya karena badai yang belakangan ini sering terjadi menerbangkan wereng cokelat sampai ratusan kilometer jauhnya,” ungkapnya. Di lain kesempatan, Budi Widodo, Technical & Marketing Manager PT Agricon Indonesia meng – ungkapkan hal serupa. “Karena pola tanam intensif, tanah tidak bisa istirahat,” ujarnya. Imbasnya, tanah enderung masam karena dipupuk terus-menerus. Bisa jadi, tanah kekurangan unsur mikro sehingga unsur hara tidak bisa terserap ke dalam tanah. Selain itu, sambung Budi, kondisi iklim dengan musim kemarau sedikit membuat tanaman terus ada di lahan, menyebabkan siklus hama tidak terputus. Akibatnya, intensitas serangan semakin tinggi. “Serangan hama memang sangat didukung oleh kondisi lingkungan,” imbuhnya. Ia memprediksi, kondisi 2018 agak ekstrem karena pengaruh musim sehingga petani harus bersiap-siap.

lanjut ke bagian 3 : https://ilga-portugal.org/berita/virus-kerdil-mengancam-swasembada-bagian-3/