Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan, saat ini Indonesia sudah swasembada cabai. “Alhamdulillah saya sudah bisa menyampaikan ke publik kita swasembada beras, bawang, jagung, dan cabai.

Swasembada

Dari tayangan presentasi Mentan, sejak 2014 – 2017 produksi cabai cenderung mengalami pe – ningkatan. Angkanya berturut-turut: 1,87 juta ton, 1,91 juta ton, 1,96 juta ton, dan 1,90 juta ton (ARAM I/2017). Pada 2014, memang masih ada impor cabai segar sebanyak 30 ton dan pada 2015 sebesar 43 ton. Namun sepanjang 2016-2017, sudah tidak ada lagi impor cabai segar. Pencapaian tersebut berkat sejumlah strategi, salah satunya manajemen pola tanam. Pola penanaman menyesuaikan kebutuhan industri, rumah tangga, hotelrestoran-katering (horeka), dan konsumen lainnya. “Indikator keterse – dia an produksi bisa dilihat dari harga.

Terbukti saat hari besar keagamaan nasional tidak ada gejolak harga yang signifikan. Harganya stabil dan aman,” terang Prihasto Setyanto, Direktur Budidaya Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura Kementan, kepada AGRINA di kantornya (3/1). Soekam Parwadi, Direktur Pengembangan Agribisnis, Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) mengamini, harga cabai besar memang cenderung stabil. Tapi untuk cabai rawit, sempat ada gejolak harga tinggi pada awal tahun hingga April 2017. “Kemudian di pertengahan tahun ada gerakan menanam cabai rawit yang masif. Jadilah banyak panen pada Agustus–November,” jelasnya. Dam – paknya, sambung Soekam, Agustus-November harga cabai rawit di tingkat petani jatuh sampai Rp6 ribu-Rp7 ribu/kg.

Ketersediaan Aneka Cabai

Periode Januari – Maret 2018, pemerintah memperkirakan persediaan aneka cabai mencukupi. Untuk cabai besar, angka prognosa ketersediaannya lebih besar dari angka kebutuhan. Perkiraan ketersediaan selama tiga bulan itu berturut-turut sebesar 102.153 ton, 101.840 ton, dan 101.855 ton. Sedang – kan perkiraan kebutuhan Januari – Maret sebesar 93.311 ton, 93.311 ton, dan 93.645 ton. Sedangkan cabai rawit, persediaan Januari – Maret diperkirakan berturut-turut sebesar 77.847 ton, 78.090 ton, dan 78.564 ton. Angka prognosa ini juga masih lebih besar dibanding prognosa kebutuhan. Angka kebutuhan Januari – Maret diperkirakan sebesar 69.843 ton, 69.861 ton, dan 69.945 ton. Tahun ini, pemerintah juga menargetkan penambahan luas panen.

“Setiap tahun kita ada penambah – an luas panen sekitar 3% di seluruh Indonesia,” ungkap Prihasto. Selama Januari 2018 ini, pemerintah memperkirakan lima daerah dengan luas panen terbesar di Mojokerto (1.342 ha), Jember (1.186 ha), Lombok Timur (1.003 ha), Banjarnegara (1.000 ha), dan Blitar (868 ha).