Masih Ada Alsintan untuk Petani

Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman berhasil mengerek bisnis alat dan mesin pertanian (alsintan) di Tanah Air. Bagaimana peluangnya tahun ini? K ementerian Pertanian terus berusaha menu- runkan ongkos produksi tanaman pangan supaya petani mendapatkan untung lebih. “Sampai hari ini kita menyiapkan 300 ribu unit alsintan,” jelas Mentan Amran pada Rakor Gabungan Ketahanan Pangan dan Evaluasi Upsus 2017 di kantor pusat Kementan, Jakarta (3/1). Dengan memanfaatkan alsintan, indeks pertanaman naik. Artinya, produksi naik dan luasan tanam pun naik. Pada 2017, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan, menyediakan 79.150 unit alsintan. Realisasinya, aspek kegiatan pengelolaan sistem penyediaan dan pengawasan alsintan menyedot anggaran Ditjen PSP sekitar 44,01% per 29 Mei 2017. Nilainya setara Rp1,623 triliun dari pagu yang disediakan sekitar Rp3,686 triliun.

Kegiatan 2018

Pending Dadih Permana, Direktur Jenderal Pra – sara na dan Sarana Pertanian mengatakan, alsintan bukan sekadar alat. Tetapi juga sebagai barang mo – dal yang harus dikembangkan sebagai modal usaha. Bantuan ini ditujukan kepada kelompok tani (Pok – tan) atau gabungan kelompok tani (Gapoktan). Pada 2018, masih ada bantuan alsintan untuk pe – tani. Rencana alokasi 2018, pagu indikatif untuk al – sintan sebanyak 84.300 unit dengan total anggaran sebesar Rp2,22 triliun. Rinciannya, akan ada peng – adaan traktor roda dua (19 ribu unit), traktor roda empat TP (1.500 unit), dan pompa air (25 ribu unit). Belum berakhir sampai di situ, Ditjen PSP juga akan melakukan pengadaan mesin penanam padi (3.000 unit), kultivator (1.700 unit), ekskavator (100 unit), penyemprot tangan (25 ribu unit), dan penanam padi (9.000 unit). Clifford Budiman, Strategic Management & Busi ness Development Director PT Rutan, produsen al sin tan di Surabaya, mengapresiasi gerakan peme rintah yang memfasilitasi alsintan untuk para petani. “Sejak kemerdekaan, program ini luar biasa karena benarbenar berani dan mendukung petani,” ung kap nya saat diwawancarai AGRINA di kantornya (9/1). Namun sebaiknya, lanjut Cliff, bantuan tidak terfokus hanya pada mesin prapanen, tetapi juga pascapanen. Ia mencontohkan kasus di Sulawesi Teng – gara, petani sangat membutuhkan mesin pengering. Jika produksi sudah berjalan tapi tidak sampai di – proses, malah akan merugikan petani. Sebagai pebisnis di bidang agribisnis, Cliff meng – aku siap mendukung segala upaya pemerintah menjalankan program-programnya. “Untuk lembaga ke – bij akan pengadaan barang/jasa (LKPP) sebaiknya mempersiapkan timeline (jadwal) supaya pihak swas ta bisa mempersiapkan dengan baik alsintan yang dibutuhkan,” ujarnya